Blue Fire Pointer

Jumat, 07 April 2017

Psikologi dan Tahap Perkembangan Pendidikan {Resume 2}

Psikologi dan Tahap Perkembangan Pendidikan
Perkembangan dalam pendidikan dapat diartikan yakni pengajaran itu untuk anak-anak yang harus dilakukan dengan tingkat yang tidak terlalu sulit dan terlalu menegangkan atau sangat terlihat mudah dan menjemukan. Pendidikan di dalam perkembangan kognitif dan bahasa dipelajari dan di ajarkan kepada siswa agar mengetahui dan memahami level atau kemampuan optimal mereka dalam praktik belajar dan mengajar agar sesuai dengan diri mereka hingga mereka merasa siap dan sesuai dengan tahapannya.
Tahap perkembangan pendidikan dalam perkembangan dikaji dalam tiga konteks yang dimana anak menghabiskan sebagian besar waktunya pada ketignya , yaiutu :
1. Keluarga
Anak-anak lahir didalam sebuah keluarga yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa orang tua mendukung anaknya, dan orang tua lainnya bersikap kasar atau mengabaikan orang tuanya. Beberapa keluarga anak ada yang hidup dalam kemiskinan, dan ada juga yang lainnya berkehidupan cukup. Jadi intinya semua anak pengasuhan dan keadaannya masing-masing berbeda satu sama lain.
a. Gaya Parenting
Orang tua tidak boleh menghukum ( puntivie ) atau terlalu tak peduli ( aloof ). sebaliknya, orang tua harus menyusun aturan bagi anak dan pada saat yang sama bersifat suportif atau mendukung dan membimbing serta mengasuh ( nurturant ). ada 4 bentuk gaya parenting, yaitu =
a) Authorian parenting yaitu gaya asuh yang bersifat membatasi dan menghukum.
b) Authoritative parenting yaitu gaya asuh positive yang mendorong anak agar menjadi mandiri tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka.
c) Neglectful parenting yaitu gaya asuh diman orang tua tidak peduli dan hanya meluangkan sedikit waktunya dengan anaknya
d) Indulgent parenting yaitu gaya asuh dimana orang tua terlibat aktif tetapi hanya memberikan sedikit batasan atau kekangan pada perilaku anak.
b. Hubungan Sekolah dan keluarga
Hubungan keluarga dan sekolah adalah mesosistem yang dangat penting, karena hubungan ini sangat menguntungkan anak-anak dari beragam lingkungan dan anak-anak dari keluarga yang berbeda-beda.
2. Teman Sebaya
Teman sebaya (peer) juga sangat memainkan peran dalam perkembangan anak dalam pendidikan. Dalam sebuah studi terhadap 3000 anak di SMA, tekanan dari teman - teman sebaya (peers Pressure) sangat erat kaitannya dengan penggunaan alkohol. Jadi intinya teman sebaya dapat memberikan perkembangan dan peningkatan yang negative dan positif, makanya orang tua juga harus ikut andil dalam perhatiannya kepada teman anaknya.
a. Status Teman Sebaya.
Status teman sebaya dibagi atas 4 tipe, yaitu anak populer,anak diabaikan, anak ditolak, dan anak kontroversial (Rubin, Bukowski & Parker, 1988; Wentzel & Asher, 1995; Wentzel & Battle, 2001).
i. Anak populer biasanya berperilaku baik dan tidak dibenci teman-temannya, juga menjaga alur komunikasi dengan kawannya agar sealu terbuka.
ii. Anak diabaikan biasanya jarang dianggap sebagai teman terbaik, tetapi belum tentu ia tidak disukai teman-temannya.
iii. Anak ditolak biasanya jarang dianggap sebagai teman terbaik, dan sering dibenci oleh temannya.
iv. Anak kontroversial biasanya dianggap sebagai teman baik dan juga kerap tidak disukai.
b. Persahabatan
Persahabatan memberikan kontribusi pada status teman sebaya dan memberikan keuntungan, yaitu :
i. Kebersamaan (Companionship)
ii. Dukungan Fisik
iii. Dukungan Ego
iv. Intimasi atau Kasih Sayang
3. Sekolah
Konteks perkembangan sosial yang terus berubah disekolah sangat bervariasi sejak masa kanak-kanak awal, sekolah dasar, dan sekolah masa remaja (Minuchin & Shapario, 1983). Dalam sistem perkembangan anak di sekolah ini, satu-satunya interkasi yang biasanya terjadi dikelas adalah dengan satu atau dua guru perempuan, yang menjadi figur utama dalam kehidupan mereka dalam bersekolah.

Read More ->>

Sabtu, 01 April 2017

Cara Mengajar Yang Efektif (Resume 1 Psikologi Pendidikan)

Cara Mengajar Yang Efektif
 “Pengetahuan dan Keahlian Profesional”
Mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid-murid sekarang bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal (Diaz,1997). Hal utama yang diperlukan untuk menguasai perspektif dan strategi itu ialah pengetahuan dan keahlian profesional, serta komitmen dan motivasi.
 Hasil gambar untuk guru efektif
l Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik serta memiliki cara-cara agar memberikan pengajaran yang baik, berikut cara-caranya :
1. Penguasaan Materi Pelajaran
Guru yang baik dipandang sebagai guru yang menguasai materi dan memiliki pengetahuan materi yang mencakup fakta, istilah, dan konsep-konsep yang umum. Seorang guru juga perlu memiliki pengetahuan - pengetahuan dasar mengenai pengorganisasian kelas, materi, mengaitkan gagasan-gagasan, dan cara berpikir seorang guru haruslah teratur,disiplin dan dapat dipercaya mengenai pendapat-pendapatnya.
2. Strategi Pengajaran
Jhon Dewey dan William James mengemukakan prinsip utama filsafat pendidikan adalah prinsip konstruktivisme. Prinsip Konstruktivisme ini mengutamakan agar manusia atau individu secara aktif menyusun dan membangun ( to construct ) pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan ini, guru tidak hanya sekedar memberikan informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru juga harus mendorong anak atau siswanya. Zaman sekarang ini, pemahaman konstruksivisme menekankan pada sifat anak-anak yang saling kerja sama untuk mengetahui dan memahami pelajaran (Gauvain,2001).
3. Penetapan Tujuan dan keahlian perencanaan instruksional
Guru yang efektif harus menentukan tujuan pelajaran dan pengajaran serta menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu (Pintrich & Schunk, 2002).
4. Keahlian Manajemen Kelas
Guru yang efektif harus membangun lingkungan pembelajaran yang kondusif dan optimal, yakni guru perlu meninjau ulang strategi penataan dan prosedur pengajaran, pengorganisasian kelompok,mentoring, dan menghidupkan suasana kelas serta mengerti dan menangani tindakan murid yang mengganggu dikelas.
5. Keahlian Motivasional
Guru harus emiliki strategi yang efektif dan jitu untuk memotivasi murid agar mau termotivasi untuk belajar dengan baik. Dan guru mesti tahu bahwa murid akan termotivasi saat bisa memilih apa yang di inginkan dan guru harus kreatif berfikir untuk memberikan kesempatan pada murid untuk usaha dan proyek mereka sendiri.
6. Keahlian Komunikasi
Guru harus memahami berbagai cara untuk berkomunikasi, baik itu komunikasi secara verbal ataupun komunikasi nonverbal dengan muri-murid dan juga orang tua dari murid. Guru mesti memiliki keahlian komunikasinya yang baik saat mereka bicara di dalam dan diluar pelajaran, dan guru juga harus meningkatkan keahlian murid untuk berkomunikasi agar berguna bagi mereka untuk mencari pekerjaan, karena saat ini yang banyak dicari perusahaan adalah yang memiliki keahlian dalam berkomunikasi.
7. Bekerja secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan
Guru harus mengetahui dan memahami anak didik dengan latar belakang yang berbeda - beda, dan sensitif terhadap apa yang dibutuhkan mereka. Dan guru harus bersikap adil menjadi perantara kultur sekolah dengan kultur murid-murid yang berbeda, terutama dengan murid yang kurang sukses dalam bidang akademik dan Guru harus mencari tahu dan memikirkan cara atau upayanya agar murid berhasil.
8. Keahlian Teknologi
Guru yang efektif harus menguasai komputer atau tekonologi dan dapat ia terapkan dalam pengajarannya agar murid ikut menulis dan berkreasi serta mempersiapkan murid untuk siap mencari pekerjaan dimasa depan karena keahlian teknologi dan keahlian berbasis komputer sangat diutamakan dalam pekerjaan sekarang.
Read More ->>

Minggu, 19 Maret 2017

Psikologi pendidikan: IMPLIKASI PENDIDIKAN PADA TAHAP PERKEMBANGAN

Masa Kanak-kanak awal (Prasekolah) Tahap perkembangan anak usia TK • Masa usia: 2-6 tahun. • Masa negativis. • Masa bermain. • Masa bereksplorasi. • Perkembangan kognitif: Praoperasional, dengan ciri: - Belajar menggunakan bahasa dan, - Cara berfikir bersifat egosentris. • Perkembangan Moral: Prakonvensional. - Tahap 1: Orientasi hukuman - Tahap 2: Orientasi ganjaran Anak-anak pada usia pra sekolah memiliki ciri khas yaitu bermain. Metode pembelajaran melalui bermain adalah metode belajar yang paling tepat digunakan untuk PG/TK. Bermain merupakan kebutuhan anak pada masa TK nya. Bermain merupakan aktivitas yang positif bagi anak, karena terkandung bermacam-macam fungsi dalam pengembangan kemampuan fisik, motorik, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial. - Untuk mengembangkan stimulasi kreativitas pada anak, tenaga pendidik dapat memberikan waktu luang pada anak. Biarkan anak menggunakan imajinasinya untuk mengeksplorasi dunia kecilnya. - Untuk mengendalikan emosi anak, tenaga pendidik dapat membicarakan ketakutan anak itu, memberinya rasa aman, serta membantu anak dalam mengendalikan emosinya. - Untuk mengendalikan sosial anak, tenaga pendidik dapat melibatkan anak dalam suatu kelompok sehingga anak dapat berinteraksi dengan anak-anak lain, belajar bekerjasama, dan melatih kemampuan sosialnya dalam memahami apa yang benar dan apa yang sala serta memahami sudut pandang orang lain. - Untuk pemahaman gender, tenaga pendidik harus memberikan pendekatan kepada anak tentang perbedaan biologis anak perempuan dengan anak laki-laki. a)Belajar perbedaan dan aturan-aturan jenis kelamin. b)Kontak perasaan dengan orang tua, keluarga dan orang-orang lain. c)Pembentukan pengertian sederhana, meliputi realitas fisik dan realitas sosial. d)Belajar apa yang benar dan apa yang salah; perkembangan kata hati. • Implikasi pendidikan - Bagi anak TK mendengarkan cerita yang menarik dan dekat dengan lingkungannya merupakan kegiatan yang mengasyikkan. - Guru dapat memanfaatkan kegiatan bercerita untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak. - Kegiatan bercerita juga memberikan sejumlah pengetahuan social, nilai-nilai moral dan keagamaan. - Pembelajaran dengan bercerita memberikan memberikan pengalaman belajar untuk mendengarkan. - Dengan dengan mendengarkan cerita anak dimungkinkan untk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. - Membantu anak untuk membangun bermacam-macam peran yang mungkin dipilih anak, dan bermacam layanan jasa yang ingin disumbangkan anak kepada masyarakat. Masa kanak-kanak akhir Tahap perkembangan Bagi Anak Usia SD • Masa usia: 6 – 11 thn (Masa Sekolah) • Tahun berakhir Prapubertas • Pengaruh teman sebaya • Tahap kognitif : Operasional – konkrit - Berfikir logis tentang objek - Menguasai jumlah dan berat - Mampu mengklasifikasikan objek *Peran guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. • Karakteristik anak usia SD : - Senang bermain - Senang bergerak - Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Contohnya : Seorang guru merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya yang nantinya akan menjadikan anak tersebut belajar aspek aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada orang lain atau lingkungannya, belajar tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), dan mengikuti kegiatan olah raga dan menanamkan keagamaan yang berdampak pada diri mereka yaitu kesehatan jasmanin dan rohani. • Tingkat perkembangan moral : Konvensional - Tahap 3 : Orientasi (good boy/girl) - Tahap 4 : Orientasi otoritas • Implikasi pendidikan *Memberikan motivasi,agar memacu mereka dalam mengasah kemampuan dan keterampilan dasar yang dikembangkan, baik sebagai bekal untuk pendidikan lanjutan maupun untuk terjun kemasyarakat. Tahun-tahun pertama anak belajar di SD berpengaruh sangat signifikan terhadap sikap anak terhadap sekolah dan pola pola pencapaian prestasi tahap tahap selanjutnya. - Menuntun pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani,serta bakat dan minat siswa. - Mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tingkat menengah. Tahap perkembangan Bagi Anak Usia SMP Anak-anak yang duduk dibangku SMP berada diantara masa anak-anak dan dewasa. Tahap itu disebut tahap remaja awal yang dimulai dari usia 10 tahun-14 tahun. Masa ini merupakan transisi sehingga sering terdapat gejolak dalam prosesnya karena remaja masih labil dalam mencari jati dirinya. Selain itu ada juga perkembangan dari segi fisik yang berkembang pesat seperti perkembangan hormon-hormon sekunder. Oleh karena itu, metodologi pembelajaran harus efektif. Metodologi pembelajaran ialah proses dimana pengajar dan peserta didik bekerja sama dalam proses penyaluran ilmu dengan baik sehingga mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Untuk itu, kita perlu mengetahui beberapa metodologi pembelajaran yang efektif untuk anak- anak tersebut, yaitu: • Metode Diskusi Metode ini dianggap efektif karena mengasah kemampuan anak dalam berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan anak untuk menyampaikan pendapatnya di depan banyak orang. Metode ini berkaitan erat dengan pemecahan masalah. Anak diajak untuk mencari solusi dalam memecahkan suatu masalah. Kelebihan dari metode ini ialah memaparkan pada anak didik bahwa dalam memecahkan masalah diperlukan banyak solusi sehingga dari keseluruhan solusi tersebut, dipilihlah satu solusi yang efektif. Metode ini juga mengajarkan kepada anak didik bahwa penting bagi kita untuk menghargai pendapat orang lain. Namun sayangnya, metode ini tidak tepat untuk digunakan dalam kuota anggota yang banyak. Metode ini juga akan lemah jika digunakan pada beberapa anak yang aktif saja, sedangkan anak yang pasif akan mengikuti saja keputusan dari anak yang aktif tersebut. • Metode Karya Wisata Metode ini memanfaatkan lingkungan alam dalam proses belajar. Metode ini dapat membuat anak didik lebih rileks dalam proses belajar karena anak didik tidak terbatas ruang belajarnya sehingga anak didik tidak cepat bosan dalam proses penyampaian ilmu dari pengajar. Metode ini juga dapat mengasah kreativitas anak didik karena anak didik tidak dibatasi dalam berimajinasi. Namun kekurangan dari metode ini ialah diperlukannya perencanaan yang matang dan melibatkan banyak pihak. Metode ini juga memerlukan pengawasan ketat dalam memantau gerak-gerik anak didik selama berada di lapangan dan diperlukan tanggung jawab yang besar dari pengajar dan pihak sekolah atas keselamatan anak didik selama melakukan metode karya wisata ini. Biaya yang mahal juga menjadi salah satu penghambat metode ini digunakan di sekolah-sekolah. Masa Remaja (Adolescence) Tahap perkembangan anak usia Sekolah Menengah Atas(SMA) • Mulai usia: 11 sampai 12 tahun, atau 18-24 tahun. • Perkembangan fisik: Mengarah ke bentuk badan orang dewasa. • Perkembangan seksual: Mulai aktifnya hormone seksual yaitu menarche dan polutio. • Perkembangan heteroseksual: Tertarik pada lawan jenis. • Perkembangan emosional: Emosi tidak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-ledak, bosan, antagonis social. • Perkembangan kognitif: Operasional Formal, yaitu: - Mampu berfikir logis tentang sesuatu yang abstrak. - Membuat rencana, strategi, keputusan-keputusan serta memecahkan masalah. - Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajr menguji hipotesis. - Memikirkan masa depan, dan perencanaan. - Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar intropeksi. • Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan: - sikap teman sebaya - nilai-nilai yang diperoleh dan - sikap orang tua • Karateristik anak usia remaja ada 2, yaitu: - Bertempat pada perkembangan fisik dan motorik. - Bertempat pada perkembangan bahasa dan perilaku kogntif. Contoh: Pada tahap SMA, para siswa apalagi dizaman globalisasi ini kerap menggunakan istilah-istilah bahasa inggris. Bahasa inggris dalam kalangan remaja SMA merupakan ajang keren-kerenan. Hal ini terjadi adalah saat mereka mengungkapkan sesuatu dgn bahasa inggris yang dipublikasikan ke social media. Sebagian mendapatkan respon yang bagus namaun para siswa yang salah dalam pelafalan arti akan menjadi cemoohan yang berakibat timbul rasa kurang percaya diri dan imbasnya cenderung tidak suka pelajaran bahasa inggris. Dalam hal ini guru dapat menimalisir ketidaksukaan siswa terhadap pelajaran bahasa inggris, karena pentingnya bahasa dalam perkembangan berfikir. Meskipun mereka cenderung tidak suka , namun demi kepentingan mereka kedepannya guru hendaknya mencari cara agar siswa berminat terhadap pelajaran bahasa inggris. • Perkembangan identitas diri: Indentity vs role confusion, timbul pertanyaan siapa saya: ingin diakui, cenderung mencoba dan meniru “idola”. • Perkembangan moral: kebanyakan tingkat konvesional, namun sebagian sudah postkonvesional. - Tahap 5: Orientasi kontrak social. - Tahap 6: Orientasi asa etis. • Implikasi pendidikan: Remaja memiliki pola piker intuitif dan berpikir dengan mengaitkan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu. Terjadi proses asimilasi yaitu penggabungan info baru dalam pengetahuan yang ada. Orientasi pendidikan remaja lebih ditekankan pada aspek pemahaman dan keterampilan. Remaja lebih banyak dituntut untuk terampil melakukan suatu tindakan yang diawali dengan melakukan pertimbangan. Materi yang diajarkan berkaitan dengan konsep yang mengharuskan seorang siswa mengerti akan suatu hal. Pendidikan membimbing remaja mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran social, mencapai kemandirian emosional dan mengembangkan kemampuan intelektual.
Read More ->>

Sabtu, 04 Maret 2017

LEARNING (BELAJAR)

     Learning atau belajar merupakan proses perubahan perilaku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Tidak semua yang kita tahu diperoleh melalui belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan yang ada sejak lahir seperti menelan makanan, berteriak atau berkedip saat silau.
Terdapat tiga macam pendekatan dalam belajar yaitu:
1. Classical Conditioning adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar mengaitkan atau mengasosiasikan suatu stimuli. Dalam pengondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus tidak terkondisi yang akan menghasilkan respon terkondisi.
Contoh :
 a. Awalnya ketika saya mendengar bunyi "tok-tok" di depan rumah, saya tidak merespon. Kemudian setelah berulang-ulang, suara "tok-tok" ternyata selalu ditandai dengan kedatangan tukang miesop, maka setiap mendengar suara "tok-tok" saya sudah berpikir bahwa itu tukang miesop.
b. Seorang anak ingin bangun pukul 4 pagi karena ingin belajar, sehingga ia pun memasang alarm dan berhasil bangun pada pukul 4 pagi. Hal tersebut terus-menerus ia lakukan hingga suatu hari ia lupa memasang alarm, tapi ia dapat bangun pagi.
c. Saya mempunyai pohon mangga di depan rumah, suatu hari saya mendengar suara benda jatuh dan saya pun keluar dan ternyata mangga tersebut jatuh, kemudian beberapa hari lagi juga terdengar bunyi benda jatuh, saya pun keluar rumah karena mengira itu buah mangga, tapi ternyata ranting pohon.
d. Orangtua saya seetiap malam sering mengingatkan saya untuk membuat susu agar tubuh saya sehat dan bergizi. Lama-kelamaan tanpa diingatkan pun saya sudah terbiasa untuk membuat dan minum susu sebelum tidur.
e. Pada saat masih kecil, saya sering bermain bola dengan abang-abang. Suatu hari, abang tersebut menendang dengan kuat sehingga bola tersebut mengenai kepala saya. Sejak saat itu, setiap abang-abang akan menendang bola dengan keras, saya akanmenunduk dan menjauh.
f. Di depan rumah saya sering lewat penjual eskrim dan ia selalu membunyikan lagu-lagu khasnya setiap lewat. Pada suatu hari saya mendengar lagu khas tersebut dan mengira itu tukang eskrim, tapi ternyata itu tukang air mineral.
2. Operant Conditioning yaitu sebentuk pembelajaran dimana di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulang.
Contoh:
a. Ada seorang anak yang selalu mendapat nilai merah ketika ujian, orangtuanya berjanji akan memberikan sepeda jika anak tersebut berhasil mendapat nilai diatas 80. Anak tersebut pun termotivasi dan belajar dengan giat sehingga memperoleh nilai 80.
b. Mama saya membuat suatu kesepakatan, yaitu apabila saya berhasil lolos ke PTN, maka mama saya akan memberikan handphone baru untuk saya. Saya pun giat mengikuti try out dan belajar sehingga saya dapat lolos ke PTN.
c. Ayah saya membuat suatu kesepakatan, yaitu apabila IP saya berada diatas 3.50 maka ia akan memberikan saya handphone baru. Saya pun belajar dengan giat dan memperoleh IP diatas 3.50.
d. Ketika saya masih SD, keluarga saya berjanji akan memberikan saya baju lebaran jika saya berpuasa penuh. Saya pun berpuasa penuh pada bulan Ramadhan dan saya mendapat baju lebaran serta THR.
e. Pada suatu hari orang tua saya melihat kantung mata saya yang sangat hitam karena saya tidur larut malam dan keasyikan main gadget, sehingga orang tua saya pun menyita gadget saya.
f. Ketika kecil, saya sangat sulit untuk berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun, kakek saya ingin saya berpuasa seperti anak-anak yang lain sehingga ia berjanji akan memberikan uang lima ribu rupiah jika saya mampu berpuasa satu hari penuh. Saya pun mencoba untuk berpuasa, menahan lapar dan haus sehingga saat bulan puasa berakhir, kakek saya memberikan saya uang yang telah ia janjikan.
g. Adek saya suka sekali bermain PlayStation hingga lupa waktu dan tidak mengerjakan tugas sekolahnya sehingga ia pun dihukum di sekolah dan ibu saya menyita PlayStation miliknya,
3. Pendekatan Kognitif yaitu bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran.
Contoh:
a. Dulu saya bermain suling dengan otodidak, saya hanya mencoba mencari suara yang cocok dengan nada-nada. Suatu hari, ketika saya mengikuti pelajaran kesenian, saya diajarkan cara bermain suling. Sejak saat itu saya berlatih bermain suling yang benar.
b. Seorang anak kesulitan dalam pelajaran Matematika, tetapi ia terus berlatih dengan soal-soal matematika sehingga ia pun dapat mengerjakan soal Matematika yang diberikan.
c. Seorang dosen menugaskan setiap mahasiswa untuk menemukan jawaban analisis dari topik yang telah mereka pelajari sehingga setiap mahasiswa pun berusaha berpikir untuk menemukan jawaban tersebut.
d. Ketika SMP saya mencoba untuk membuat blog dengan bantuan internet dan saat kuliah pada mata kuliah Aplikom, saya diajarkan cara untuk memperindah blog, saya pun aktif membuat blog sampai sekarang.
e. Ada seorang anak yang suka coret-coret dengan crayon, suatu hari ia melihat gambar kartun yang lucu sekali dan ia pun mencoba menggambarnya. Sejak saat itu ia pun rajin melatih menggambar dan menggunakan imajinasinya sendiri.

Disusun oleh :
1. Karyani Marlis Halawa (16-004)
2. Sofyan Sahuri Hrp (16-013)
3. Nabilah Alwani (16-023)
4. Anjelica (16-034)
5. Daniella (16-050)
6. Naufal Ilham Hrp (16-069)
7. Novita Sari Marbun (16-070)

Read More ->>

Jumat, 02 Desember 2016

Tutorial Pemula Memahami Microsoft Power Point

Microsoft power point adalah sebuah program aplikasi untuk presentase (presentation), yaitu membuat program aplikasi layar perlayar silih berganti.

1.Membuka Power Poin
•§ Klik start
•§ Pilih all program
•§ Pilih Microsoft Office
•§ Pilih Microsoft Office Power Point
•Atau double klik ikon ppt pada dekstop (jika ada)

2.Menyimpan presentase baru
•Klik menu file
•Klik save atau tekan ctrl+s
•Akan keluar kotak dialog save
•Pada file nama ketikkan nama file


3.Memasukan gambar kedalam slide

•Letakkan penunjuk mouse pada area slide
•Klik menu insert
•Sorot picture
• Klik clipart/wordart/from file/autoshape/organization chart
•Pilih gambar atau objek yang diinginkan klik ok
•Aturkan posisi dan ukurannya (caranya sama seperti mengatur gambar pada Microsoft word)


4.Memilih slide design
•Klik Menu Designe
•Pilih Designe Yang di inginkan
•Pilih juga Colors dan Effect jika anda inginmengubahnya.


Ini adalah Tutorial-tutorial bagi pemula dalam memahami penggunaan PowerPoint, Semoga Post Ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
  "Everyday Is A New Adventure" and " A Men's Dream Will Never Die"
sofyan sahuri harahap

Read More ->>

Muka Muka 5L ke Sibayak


 
 Di USU kan ada yang namanya MID Test, biasanya MID test itu ada waktu liburnya walaupun beberapa hari. Nah disini saya membagikan secuil foto-foto saya dengan kawan-kawan pada saat menghabiskan waktu libur yang tak seberapa tersebut.
Kami sebenarnya gak punya niatan buat pergi-pergi, tapi tiba-tiba aja ada pendapat teman kalau kita naik gunung, pada saat itu pukul 2 pagi dan pada saat itu kami langsung berangkat tanpa persiapan apa-apa dan dengan uang yang pas-pas-an.
      Walau begitupun perjalanan itu sangat mengasyikkan karena        suatu hal yang tak terduga-duga atau mendadak lebih seru    dibanding
 persiapan yang memakan waktu dan tak jelas kapan jadinya.



 




Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.